DiaryBanker11 : Bonus

Alhamdulillah. Bonus tahun ini sesusai dengan ekspektasi awal. Proyeksi keuangan yang sudah gw buat akhirnya menunjukkan posisi positif setelah sebelumnya negatif selama 2-3 bulan terakhir. Cash-in di akhir Februari ini benar-benar membantu gw dalam meringankan beban hutang yang telah mencapai puncaknya di Februari. Sebenarnya gw juga udah buat proyeksi bonus di bulan Maret, tapi Alhamdulillah. Jumat penuh berkah, setelah mendapatkan notifikasi rutin setiap tanggal 25 dari 3346 di Subuh hari, menjelang Maghrib kembali notifikasi 3346 itu muncul. Yah, walaupun yang muncul sebenarnya keterangan : Sisa pulsa anda tidak mencukupi untuk menerima layanan ini.

taken from google

taken from google

Jauh sebelum gw bekerja di instasi ini, bonus paling banter gw dapat pada saat THR. Waktu gw masih bocah, lebaran adalah saat yang paling ditunggu-tunggu oleh gw dan adek-adek gw. Gw inget banget, almarhum bapak selalu menjanjikan Rp 1.000 setiap gw berhasil puasa setiap harinya. Jadi kalau dalam sebulan 30 hari gw bisa full puasa, gw bakal dapat Rp 30.000. Belum lagi bonus lainnya dari nenek, uwak, mamang, bibi, kakak sepupu yang sudah bekerja dan saudara-saudara lainnya. Pokoknya untuk ukuran bocah sepantaran gw, jumlah tersebut sangatlah fantastis. Apalagi jajanan di kampung juga relatif lebih murah dibandingkan di Jakarta. Secara kalau lebaran pasti gw mudik ke kampung gw di Kuningan.

Beranjak dewasa, bonus THR mulai ketat. Gw udah termasuk golongan yang tidak jelas apakah masih berhak menerima bonus atau tidak. Jadi posisinya bener-bener nothing to lose. Dapet syukur Alhamdulillah, kalaupun enggak juga gak masalah karena jauh-jauh hari gw udah menyiapkan mental untuk menerima kemungkinan buruk tersebut. Hehehe. Ngenes banget yak gw. Tapi memang begitulah adanya. Apalagi buat usia SMA ke atas, serba salah pokoknya. Saudara mau ngasih sedikit gak enak, nanti dianggap pelecehan. Tapi kalau dikasih banyak juga budget terbatas, mending ngasih ke bocah-bocah, biar dikit tapi bisa ngasih orang banyak. Hahaha. Maka di fase tersebut banyak-banyaklah berdoa, mohon diberi kekuatan dalam menghadapi kenyataan hidup ini. Aamiin.

Nah, kemudian ketika pertama kali memasuki dunia kerja. Alhamdulillah, gw diberi kesempatan untuk bergabung ke salah satu bank BUMN terkemuka di Indonesia. Akhir 2009 gw udah join. Dan di pertengahan 2010, gw berkesempatan untuk bisa hijrah ke unit Syariah. Hingga akhirnya menjadi BUS (Bank Umum Syariah), Allah masih memperkenankan gw untuk bergabung disana. Berjuang untuk menegakkan ekonomi Islam di bumi Indonesia. Kurang lebih tujuh tahun. Bukan waktu yang singkat untuk gw belajar dan mempraktekan teori-teori yang ada tentang perbankan syariah. Allahu Akbar!

Kembali ke topik bahasan awal, Alhamdulillah gw juga udah beberapa kali mendapatkan bonus atas kinerja yang telah dicapai pada tahun sebelumnya. So far, gw masih merasakan hitung-hitungan yang fair tentang bonus ini. Elu achieve, bonus lu tinggi. Elu enggak achieve, bonus yah sedapetnya aja. Awal-awal tahun gw di B*I Syariah gw gak terlalu ngeh sama besaran bonus yang gw dapat. Semua itu jauh dari cukup. Secara, saat itu gw belum terjebak kasus you know who. Baru setelahnya, gw mulai berhitung. Apalagi KP juga mulai ketat perhitungannya soal bonus ini. Sebagai contoh, 2015 ketika gw dan tim gak achieve, maka bonus yang kita dapat pun sedikit. Dengan legowo kita menerima itu semua.

Akan tetapi, ada satu hal yang sangat mengganjal dalam benak pikiran gw. Ketika pada akhirnya gw dan tim berhasil achieve di tahun 2016, kenapa ada satu anggota tim gw yang mendapatkan apresiasi lebih rendah dibanding yang lainnya. Asli. Gw sebagai tim leader bener-bener ngerasa gak guna banget ketika gw dapat memuaskan sementara anggota tim gw yang paling senior, berpengalaman dan memberikan kontribusi terbesar cuma dapat baik. How come?

Come on! Unit yang gw pegang ini unit bisnis. Targetnya jelas tertuang dalam angka. Kuantitatif ‘Bro! Hitungan gw, si doi masuk kategori memuaskan. Tapi kenapa hasil yang keluar cuma baik. Bagaimana bisa? Apa yang dianulir? Apa penyebabnya?

Kalau boleh gw berpendapat, kalau memang hitungan dari cabang beda, kenapa enggak ada penjelasan sebelumnya. Kalau keputusan sudah dibuat seperti ini kan agak ribet jadinya. Ini bukan sekedar masalah nominal bonus menurut gw. Tapi ini masalah transparansi dan hak orang. Harusnya ada tabayun. Klarifikasi. Maka jangan salahkan gw kalau tahun ini passion salah seorang anggota tim gw berkurang. Dan menurut gw itu wajar. Kalau gw di posisi beliau pun gw perlu waktu untuk bisa move on. Syukur-syukur bisa mengambil hikmahnya. Wallahu’alam.

Bunyamin I, 1 Maret 2017Curcol selepas Februari…

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s