#Diary20 : November Rain

Genap setahun dari postingan gw sebelumnya yang bertajuk November Juara. Kali ini November gw sungguh mengharu biru. Hujan badai. Gundah gulana. Dan selisih sebulan dari Green Day yang bersenandung tentang hujan di September, sepertinya gw masih belum terbangun meskipun sekarang sudah masuk pertengahan November.

“Wakeme up, when September ends…”

taken from google

taken from google

November kali ini memang jauh lebih menantang. Tantangan itu sebenarnya sudah bisa gw prediksi sejak kita masuk trimester keempat 2017, mulai dari Oktober s.d sekarang. Posisi target lepas September sudah memasuki masa kritis. Antisipasi gw kurang cepat. Mungkin faktor internal cash flow cukup mempengaruhi mental berjuang gw. Belum lagi faktor eksternal yang dirasakan hampir semua supervisor SME se-Indonenesia Raya, membuat perjuangan kita hingga saat ini terasa biasa saja, nihil apresiasi. Seperti terlupakan.

Sejak awal tahun gw udah sadar, target kali ini memang jauh lebih menantang dibanding tahun sebelumnya. Belum lagi SDM di unit gw yang mengalami perombakan massal nyaris di sepanjang tahun. Challenging banget. Ujian yang bisa gak bisa gw hindari dan harus gw hadapi sebagai prajurit. Itulah amanahnya, dan tugas gw adalah berusaha sebaik mungkin untuk menuntaskan amanah tersebut. Continue reading

Advertisements

#Diary Banker19 : PERJUANGAN

Akhir kamis di Agutus 2017. Masih banyak misi yang belum terselesaikan. Belum tuntas sempurna. Dan hari inilah puncak dari perjuangan itu. End of month.

p

taken from google

Tapi jauh sebelum itu, banyak hal yang gw lewati di Agustus ini. Pertama, Hasanah Olimpic 2017. Menjadi kontingen paling senior dari Banjarmasin. Ikut cabang Mini Soccer bersama Tim WTI 1. Untuk kali pertama dan paling berkesan sedunia. Match pertama belum genap sebabak, kaki kiri sudah terluka parah. Terlalu bersemangat. Sliding tackle yang tidak sempurna. Berujung pada hasil akhir kekalahan 0-3 atas WJP. Berlanjut ke match kedua, sempat tertinggal 0-2, lalu mengejar 1-2 hingga akhirnya Knock Out 1-3 atas WJB. Gugur sudah Tim WTI 1 meski menyisakan satu pertandingan versus KP 2. Apapun hasil akhirnya, tidak akan merubah apa-apa. Dan Alhamdulillah, rekor tercipta di cabang Mini Soccer, WTI 1 unggul telak 10 gol tanpa balas atas KP 2 di pertandingan yang berlangsung tengah hari, saat matahari berada di puncak Lapangan Simprug Pertamina. Setidaknya kita mendapatkan pengalaman berharga, tahun depan sepertinya lebih baik diadakan futsal saja yang sudah lebih familier. Hehehe. Continue reading

#DiaryBanker18 : THE ART OF FINANCE

Sudah memasuki Agustus, bulan dimana gaung kemerdekaan RI menggema dimana-mana. Meski pada kenyataannya, gw pribadi masih belum merasakan kemerdekaan sepenuhnya, apalagi kemerdekaan finansial. Sepertinya selama gw masih berada di unit financing maka selama itu pula perjuangan gw untuk bisa merdeka seutuhnya bakal terus berlanjut. Semoga dua tahun lagi gw bisa merayakan kemerdekaan finansial sesuai dengan proyeksi cashflow yang sudah gw buat. Aamiin.

Berlanjut tentang finance atau dalam bahasa sederhananya adalah pembiayaan, maka hanya ada dua kemungkinan yang akan terjadi setelah pembiayaan itu cair. Lancar atau macet. Itu yang harus dipahami diawal. Kita gak bisa memilih selain dari kemungkinan itu. Oleh sebab itu, diperlukan analisa yang komprehensif dalam setiap pembiayaan yang akan kita proses. Resiko gagal bayar itu pasti ada, tinggal bagaimana kita memitigasi resiko tersebut. Dan selama tujuh tahun gw berkecimpung di dunia pembiayaan, gak ada satupun nasabah yang perfect. Sempurna 100%. Pastilah ada plus-minusnya. Tapi disanalah tantangannya. Bagaimana caranya gw bisa tetap tidur nyenyak setelah pembiayaan itu cair? Ilmu inilah yang gak bisa didapat cuma dari pelatihan di kelas. Kita harus terjun langsung, belajar langsung dari senior yang terdahulu, belajar mengenal bisnis yang dikelola nasabah, belajar berkomunikasi dengan bahasa yang santun dan ramah. Tidak cuma bisa mengeluh dan berharap semuanya sempurna. Wake up ‘Bro!

taken from google

taken from google

The art of finance. Tapi itulah seninya pembiayaan. Kalau salah satu detergen punya tagline “Gak Belajar Kalau Gak Kotor”, bisa jadi tagline itu berubah jadi “Gak Belajar Kalau Gak Macet”. Naudzubillah, gw pribadi gak berharap hal itu terjadi. Bukankah kita bisa belajar tanpa perlu mengalami? Mendengar cerita langsung dari para pelaku. Meminta nasehat bagaimana agar hal tersebut tidak menimpa kita. Berempati kepada pelaku atas cobaan yang sedang dialami. Insya Allah itu sudah cukup. Tetapi jika pada akhirnya Allah mentakdirkan hal tersebut terjadi pada diri kita, solusinya bukan sekedar menyalahkan orang lain. Merasa dipaksa oleh atasan. Gak dapat arahan yang baik dari supervisor. Tertipu. Dijerumuskan. Hello! Mana ada pemimpin yang mau anak buahnya sengsara. Kalau anak buah gagal, jenderal-nya duluan yang akan dicabut pangkatnya. Dan pemimpin yang baik akan pasang badan kalau terjadi apa-apa. Kembali kepada dua kemungkinan yang gw tuliskan sebelumnya, pilihannya adalah lancar atau macet. Bukankah macet itu juga atas seizin Allah. Jadi lebih baik evaluasi diri masing-masing. Cari solusi kongkrit untuk penyelesaian. Gak lagi merasa jadi korban. Karena kita semua di unit pembiayaan juga sama-sama korban, analis-supervisor-branch manager. Noted! Continue reading

#DiaryBanker17 : JAKARTA AGAIN!

taken from google

taken from google

Kembali lagi ke Jakarta. Tahun ini, gw udah beberapa kali pulang pergi Jakarta. Sampai dengan Juni 2017, tercatat sudah tiga kali gw harus kesana, tidak seorang diri, tapi sepaket sama anak istri. Kalau tahun lalu gw sering ke Jakarta untuk urusan kerja, sekarang urusannya adalah tentang keluarga. Awal Januari tadi, lamaran adik kedua. Awal April akad nikah, resepsi juga lamaran adik ketiga. Pertengahan Juni s.d Juli mudik lebaran. Dan Insya Allah pertengahan Oktober nanti, akad nikah dan resepsi adik ketiga. Jakarta again!

Satu hal yang menjadi perhatian besar gw ketika harus ke Jakarta adalah masalah biaya. Tiket PP untuk satu keluarga berkisar di angka Rp 4.500.000. Jumlah yang cukup lumayan saat cashflow pribadi benar-benar belum stabil. Mungkin hal ini yang juga dirasakan oleh Bos gw yang sekarang dimana dia harus pulang pergi ke Jakarta minimal sebulan sekali karena anak-istrinya memang ditinggal disana. Sebuah resiko pekerjaan yang harus gw jalani dan dicarikan jalan solusinya. Solusi sementara bukan dengan minta pindah ke Jakarta, tapi dengan minta kepada Allah kalau pas mau ke Jakarta, pas ada anggarannya. Aamiin. Continue reading

#DiaryBanker16 : RAMADHAN DUA BULAN

Ramadhan kali ini akan gw lalui dalam dua bulan. Sejak akhir Mei hingga akhir Juni 2017. Untuk Mei Alhamdulillah sudah terlewati dengan cukup menggembirakan. Berbicara hasil, setelah usaha dan doa terbaik, inilah hasil terbaik yang kemudian Allah berikan. Pencapaian ekspansi masih nomor satu se-Indonesia Raya, NPF masih terkendali, Pra NPF masih make sense (walau relatif besar) dan ada satu PR besar yang harus gw selesaikan sebelum Ramadhan berakhir di akhir Juni, bahkan klo bisa sebelum nanti di pertengahan Juni gw mudik. Bismillah.

taken from google

taken from google

Kayaknya gw belum pernah cerita salah satu pantangan yang gak boleh dilanggar oleh seorang AO. Apakah itu? Jangan sekali-kali membiarkan nasabah macet kurang dari setahun. Maksudnya, setelah realisasi/pencairan, tolong dijaga agar nasabah tersebut bisa melewati fase setahun untuk tidak macet atau bermasalah. Sebab apa? Sebab klo itu sampai terjadi, kita wajib membuat yang namanya LPK. Semacam laporan pertanggungjawaban. Sungguh sangat tidak menyenangkan.

Saat ini gw kembali menemukan kasus serupa. Nasabah eksisting gw, yang udah beberapa kali mendapatkan fasilitas, yang udah gw percaya untuk amanah menjaga kewajibannya, tapi nyatanya saat ini sudah beberapakali wan prestasi, atau klo bahasa Banjar-nya, mengeramput! Gw gak mempermasalahkan klo bisnisnya ternyata ada masalah, hidden trouble yang gak terdeteksi oleh gw. Juga oleh analis gw. Sangat gw sayangkan, gw kecolongan kembali. Bukan masalah nominalnya. Besar kecilnya gak masalah buat gw, walau sebenarnya jumlah segitu saat ini sangatlah besar buat gw. Tapi yang membuat gw kecewa adalah gw dibohongin oleh nasabahnya, apapun alasannya. Continue reading

Surat Untuk Saudaraku; Anggota, Alumni & Simpatisan KAMMI

Rabu malam. Sekitar jam 10 WITA saya baru membuka WA. Di salah satu grup alumni kampus, terposting berita bahwa salah satu sahabat kami ada yang ditangkap polisi ketika melakukan aksi di depan Istana Merdeka siang tadi. Tidak sekedar ditangkap, polisi juga memberikan sedikit bukti arogansinya dengan luka lebam dan luka fisik lainnya kepada para pelaku aksi. Batin saya bergejolak. Aparat kepolisian benar-benar tidak sopan!

Tindakan anarkis semacam itu tidaklah dibenarkan. Tapi mungkin publik saat ini juga tahu. Anak buah adalah cerminan dari pemimpin. Pemimpin yang tidak baik tentu akan memberikan dampak yang juga tidak baik bagi bawahannya. Begitu juga sebaliknya, pemimpin yang baik tentu akan memberikan dampak yang baik bagi bawahannya. Maka benar apa yang disampaikan Ust. Arifin Ilham, doa beliau untuk ayahanda semoga Allah kabulkan. Agar aparat keamanan itu mengayomi, melindungi, serta memberikan rasa aman, bukannya memberikan kekhawatiran, kecemasan, hingga kedzoliman.

*~* Continue reading

#DiaryBanker15 : LEADERSHIP

Alhamdulillah, posisi gw sekarang udah definitif. Setelah sebelumnya uring-uringan karena status pejabat sementara (pjs) yang tidak kunjung jelas dan pasti. Belum sempurna benar memang statusnya, karena meskipun sudah definitif, gw malah kehilangan kompensasi pjs dan pemotongan uang pulsa di bulan April. Okelah, gw pikir gak masalah klo semisal Total Cash (TC) gw kemudian naik jika dibandingkan Maret, tapi pada kenyataannya? Masih tetap sama. Okelah, klo memang TC gw sebelum definitif berada di level tertinggi which means sama dengan sama dengan level terendah di posisi definitif, mohon agar dijelaskan dan disampaikan saja. Agar semuanya transparan dan clear. Tapi kenyataannya? Semuanya masih menggantung. Seperti yang pernah disampaikan oleh si Andi -anggota team gw yang paling senior- untuk hal semacam ini sepertinya memang gw harus ngotot dan berjuang terus untuk mendapatkan hak-hak yang sudah semestinya. Mumpung kinerja gw juga masih on the track!

Ya Allah, semoga di penghujung Mei nanti semua yang seharusnya menjadi hak gw bisa bener-bener tertunaikan. Aamiin.

taken from google

taken from google

Kembali ke judul awal cerita gw kali ini. Salah satu karakter kepemimpinan dalam islam adalah tabligh alias menyampaikan. Nah, gw cuma mencoba menyampaikan apa yang menjadi hak seorang pegawai, tentunya setelah kewajiban telah kita tunaikan. Bahkan gw sempet share ke beberapa supervisor di cabang lain untuk juga memperjuangkan apa yang menjadi haknya. Memang beda-beda responnya. Ada yang pasrah dan nerimo begitu saja, ada juga yang membiarkan semuanya mengalir bagaikan air. Hahaha. Kayaknya emang gw doing nih yang rebel. Tapi sekali lagi, gw juga berhitung, klo gak sekarang gw memperjuangkan hak gw, kapan lagi? Reasonnya apa? Mumpung kinerja gw juga masih on the track! Continue reading